MENU

Reuters Dan Wall Street journal Ikut Beritakan Sikap Indonesia Terkait Muslim Uyghurs

Reuters Dan Wall Street journal Ikut Beritakan Sikap Indonesia Terkait Muslim Uyghurs
Media asal London Reuters dalam beritanya telah menyoriti lobi lobi Beijing kepada beberapa kelompok Islam Indonesia yang menjadikan alasan kenapa Indonesia bungkam terkait pembantaian Muslim Uyghurs di Tiongkok

Media itu memberitakan bahwa Kelompok Muslim terbesar di Indonesia telah membantah bahwa lobi oleh Beijing, termasuk tur yang difasilitasi oleh Cina di Xinjiang, telah mempengaruhi sikap mereka terhadap perlakuan terhadap minoritas Muslim Uighur di kawasan itu.

Sementara itu PBB sendiri sudah memperkirakan bahwa antara 1 juta dan 2 juta orang, sebagian besar etnik Uighur Muslim, telah ditahan dalam kondisi yang keras di Xinjiang sebagai bagian dari apa yang Beijing sebut sebagai kampanye anti-terorisme.

Tiongkok telah berulang kali membantah melakukan penganiayaan terhadap warga Uighur.  
Namun Indonesia belum secara terang-terangan berbicara tentang kaum Uighur seperti pada masalah-masalah lain yang dianggap penting di dunia Muslim, seperti nasib orang-orang Palestina.

Abdul Mu'ti, sekretaris jenderal kelompok Muslim terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, membantah telah menerima donasi dari China selama tur di Februari yang diikuti Xinjiang, dan mengatakan pihaknya menentang "semua jenis pelanggaran HAM, di mana-mana dilakukan oleh  siapa pun terhadap siapa pun. "

Sebelumnya The Wall Street Journal dalam sebuah laporan pekan lalu menggambarkan kerjasama tersebut sebagai bagian dari usaha untuk meyakinkan otoritas agama dan media Indonesia bahwa kamp pendidikan ulang di Xinjiang adalah upaya yang bermaksud baik untuk memberikan pelatihan kerja dan memerangi ekstremisme.

Dalam konferensi pers pada hari Senin, Mu'ti menggambarkan sebagai “tidak berdasar” pernyataan apa pun bahwa pandangan kelompok telah dipengaruhi setelah mengunjungi wilayah tersebut.

Savic Ali, direktur kelompok Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), juga membantah bahwa kelompok itu dipengaruhi oleh Beijing.

Indonesia adalah negara mayoritas Muslim terbesar di dunia dan NU dan Muhammadiyah mengklaim memiliki sekitar 120 juta anggota di antara mereka.

"NU tidak memiliki hubungan khusus dengan China dan posisi internasional NU tidak dipengaruhi oleh beasiswa atau undangan kunjungan," katanya, seraya menambahkan NU tidak memiliki informasi lengkap tentang situasi warga Uighur di Xinjiang.